9 Cerita Gontor,Penyemangat Para santri. :D



Bersahabat dengan Waktu

Sebelum menjadi santri Gontor, banyak yang membayangkan betapa menderitanya nanti kalau suatu saat mereka belajar di pondok ini. Jika mendengar cerita orang-orang (yang belum tentu mengenal Gontor dengan baik), terlintaslah di benak mereka peraturan-peraturan yang begitu mengikat dan mengekang kebebasan dalam berekspresi dan berkreasi. Terbayang pula bagaimana hukumannya jika melanggar disiplin yang ada. Apalagi jika yang bersangkutan begitu alergi dengan yang namanya disiplin. Wah, rasanya berat sekali menjadi santri Gontor! Akhirnya, banyak yang menyerah sebelum berperang. Waduh, kasihan sekali! Jarrib wa laahidz takun ‘aarifan, cobalah dulu barulah kita mengetahui dan mengenal Gontor dengan baik.

Mereka yang menyadari betapa pentingnya pendidikan pasti merasakan kepuasan menimba ilmu di Gontor. Ternyata, setelah menjadi santri Gontor, muncullah cerita yang berbeda. Memang, disiplin dijunjung tinggi. Tak seorang santri pun terlepas dari disiplin. Bukankah di setiap tempat itu ada disiplin? Bukan hanya di Gontor. Bedanya, disiplin di pondok ini lahir dari pengalaman yang dijalani selama puluhan tahun. Sehingga, segala peraturan yang diterapkan di Gontor terbentuk dari pengalaman. Dengan kata lain, disiplin inilah yang menjaga kita untuk tidak terperosok ke lubang yang sama. Maka, terasalah bagi seluruh santri bahwa disiplin bukan sekedar peraturan yang melarang ini dan itu. Disiplin Gontor benar-benar memiliki tujuan dan makna yang dalam untuk mendidik santri-santrinya.

Betapa menyenangkan hidup penuh disiplin. Segala sesuatu yang ingin kita lakukan tercapai. Segala program yang direncanakan terlaksana dengan baik. Dengan disiplin, kitalah yang menguasai waktu, mengaturnya dan menatanya. Santri-santri Gontor mengetahui kapan belajar, kapan mereka harus makan, kapan berangkat ke masjid, kapan berolahraga dan melakukan segala aktivitas lainnya. Mereka mengenal waktu sebaik mereka mengenal seorang sahabat.

Sabtu, 10 Juli 2010

 

Roda Kehidupan yang Terus Berputar

Banyak santri yang beranggapan bahwa waktu serasa berjalan begitu cepat di Gontor. Sampai-sampai, mereka pun tidak merasa bahwa telah lama tinggal di pondok yang terus bergerak seiring pergerakan waktu itu sendiri. Seorang santri yang kini duduk di kelas 6 KMI tidak percaya kalau dirinya telah belajar selama enam tahun.

Cepat sekali, pikirnya. Ada pula yang tidak percaya bahwa ternyata kini ia telah menjadi alumni Pondok Modern Darussalam Gontor. Padahal, sewaktu pertama kali duduk di kelas 1 KMI, ia benar-benar tidak betah dan sungguh ingin pulang. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya.

Mereka mencoba melakukan saran ustadz yang bijak, “Jika merasa tidak betah, cobalah untuk bertahan di Gontor selama seminggu. Jika masih tidak betah, cobalah sebulan. Jika masih tidak betah juga, cobalah untuk terus bertahan selama setahun. Kalau belum betah, cobalah dua tahun dan seterusnya hingga menjadi alumni. Kalau masih belum betah setelah menjadi alumni, barulah kamu boleh pulang.” Kedengarannya memang seperti lelucon, tapi inilah yang terjadi.

Berbagai aktivitas yang menjadi roda dinamika di Gontor membuat para santri melupakan ketidakbetahannya. Ia pun mulai merasa nyaman dengan segala kegiatan yang tiada hentinya dari pagi hingga malam. Apalagi di antara kegiatan yang ada sesuai dengan hasrat dan keinginannya. Lupalah ia, kalau tadi ingin pulang. Ternyata, ia menemukan sesuatu yang baru di Gontor, suatu hal yang dicari-carinya selama ini dan tidak ditemukan di sekolah-sekolah lain.

 

Kereta Api Kesabaran

Budaya antri merupakan kebiasaan orang-orang sukses yang bedisiplin tinggi. Dalam hal ini, Gontor tidak ketinggalan mendidik seluruh santri untuk terbiasa antri sesuai dengan gilirannya masing-masing. Budaya antri akan melatih kesabaran kita, sabar menanti gilirannya tiba, dan mengajari kita untuk menghormati orang lain, tidak mengambil hak orang lain. Sabar yang terlatih akan berbuah manis dan memberikan kita banyak keuntungan. Dengan sabar pula, kita dapat menyelesaikan tugas dan kewajiban dengan baik.

Antrian yang panjang bisa ditemukan di dapur umum pada saat jam makan tiba. Tidak ada seorang pun yang berani menyerobot, walaupun dia ingin cepat-cepat melakukan pekerjaan yang lain. Selain di dapur, antrian juga terlihat di depan kamar mandi. Walaupun tidak sepanjang antrian di dapur, para santri juga menikmatinya dengan bercengkerama mengenai banyak hal. Dari sinilah suasana keakraban di antara para santri dapat terbentuk. Namun demikian, antrian paling panjang adalah ketika kita harus mendapatkan kwitansi untuk syarat liburan. Demi liburan, mereka pun rela berbaris sepanjang jalan. Tapi, tenang saja, semuanya pasti mendapatkan giliran, tentunya dari depan ke belakang. Mereka menikmati kereta api kesabaran di pondok tercinta.

Rabu, 26 Rajab 1431

 

PPL Buktikan Kreativitas Pramuka Gontor

GONTOR— Koordinator Gerakan Pramuka Gugus Depan (Gudep) 15089 Pondok Modern Darussalam Gontor menggelar Praktek Pengayaan Lapangan (PPL) yang dilaksanakan adika pramuka dari kelas 3 Intensif dan 4 Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI). Dengan melaksanakan PPL, mereka dituntut untuk tampil percaya diri dan kreatif sebagai seorang pramuka. PPL perdana digelar dua minggu yang lalu, Kamis (13/5) siang. Ahalla Tsauro, staf Koordinator Gerakan Pramuka, menuturkan, Ahad (23/5), PPL perdana sebagian besar dilaksanakan anggota Pasukan Khusus (Pasus). Jumlahnya mencapai 30 orang yang disebar di setiap POT.

 

Menurut Ahalla, PPL merupakan kegiatan tahunan, tepatnya pada semester kedua tiap-tiap Tahun Ajaran. Dalam PPL, siswa kelas 3 Intensif dan 4 KMI selaku Ambalan Khusus (Amsus) Pramuka Pondok Modern Darussalam Gontor

mempraktekkan sebuah keterampilan berupa kerajinan tangan di hadapan sejumlah anggota pramuka lainnya layaknya pelaksanaan Tarbiyah Amaliyah siswa kelas 6 KMI. Berbagai macam kerajinan tangan seperti asbak rokok, hiasan dinding dan aksesoris kreatif lainnya membuktikan kreativitas pramuka Gontor yang kelak bermanfaat sewaktu terjun ke masyarakat.

Pelaksanaannya berlangsung dalam tiga gelombang. Seminggu setelah PPL perdana pada gelombang pertama, sebanyak 256 adika Amsus  melaksanakan PPL selanjutnya untuk gelombang kedua, Kamis (20/5) kemarin. Sedangkan PPL gelombang ketiga sekaligus terakhir akan berlangsung minggu ini, Kamis (27/5), di kampus Pondok Modern Darussalam Gontor. Peserta PPL gelombang terakhir ini berjumlah 401 orang.

Terdapat beberapa kriteria penilaian yang menentukan kelulusan adika-adika Pramuka dalam melaksanakan PPL. Jika mereka tidak memenuhi kriteria yang ada, dipastikan harus mengulang kembali PPL pada waktu yang nantinya ditentukan Koordinator Gerakan Pramuka. Adapun kriteria yang ada mencakup pembuatan i’dad (persiapan tertulis untuk penyampaian teori PPL-red), cara penyampaian dan hasil kreativitas. “Hal ini akan menjadi pendidikan dan pengalaman tersendiri bagi peserta PPL sebelum mereka menjadi pembina tahun depan,” ujar Ahalla menjelaskan.

Bagaimana tidak, lanjutnya, seorang pembina pramuka haruslah mempersiapkan i’dad sebaik mungkin sebelum menyampaikan materi. Bukan hanya itu, ia haruslah mempunyai cara kreatif dalam menyampaikan materi tersebut kepada anggota-anggotanya. Dengan demikian, hasil yang dicapai sesuai dengan harapan dan tujuan yang ada. Maka, PPL telah mengajarkan banyak hal mengenai ini. Sehingga, kelak mereka sudah siap menjadi pembina pramuka.

Sementara itu, Musyawarah Gugus Depan (Mugus) direncanakan akan berlangsung Jum’at ini (28/5), tepat sehari setelah selesainya pelaksanaan PPL. Mugus akan dilaksanakan Amsus yang terdiri dari kelas 3 Intensif dan 4 tersebut dari pagi hingga sore. Menurut Ahalla, Banyak hal yang akan dimusyawarahkan pada saat Mugus nanti menyangkut kepramukaan di Pondok Modern Darussalam Gontor setahun ke depan. Amsus tahun ini dibimbing langsung oleh dua orang staf Koordinator Gerakan Pramuka, Sunki M. Sulthon (5-Q) dan Tengku Imam (5-D).

 

Penataran Metodologi Iqro’ TPA-TKA dan BCM, Tumbuhkan Kecintaan Anak pada Alquran

MANTINGAN — Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1 kembali menyelenggarakan pelatihan bertajuk Penataran Metodologi Iqro’ TPA-TKA dan BCM (Bermain, Cerita dan Menyanyi) selama dua hari berturut-turut. Acara berlangsung pada Senin (31/5) pagi hingga Selasa (1/6) sore, dengan dihadiri Pengasuh Pondok, Dr. H. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, MA, pada acara pembukaan yang bertempat di Aula Kairo. Beliau menyempatkan diri untuk memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi. Dalam kesempatan ini, beliau menyampaikan, dengan pelatihan ini, Gontor Putri 1 berupaya menumbuhkan kecintaan anak-anak TPA-TKA terhadap Alquran. Selain itu, para santriwati juga mempunyai kesempatan untuk lebih dekat dengan Alquran sewaktu mengajarkannya kepada anak-anak. Secara tidak langsung, hal ini akan menjadi motivasi tersendiri bagi setiap santriwati untuk terus membaca Alquran.

 

Para peserta yang mengikuti pelatihan ini terdiri dari siswi kelas 3 Intensif dan 4 Kulliyatu-l-Mu’allimat Al-Islamiyah (KMI). Seperti yang diungkapkan Ustadzah Lina, staf Pengasuhan Santriwati Gontor Putri 1, ketika dikonfirmasi Gontor Online, Kamis (3/6) tadi, dalam dua tahun terakhir ini, peserta penataran berasal dari kedua kelas tersebut. Sebelum itu, pesertanya berasal dari siswi kelas 5 KMI dan acaranya dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Menurutnya, perubahan ini berdasarkan kenyataan bahwa setiap peserta diharapkan mampu menerapkan metode yang mereka peroleh untuk mengajar anak-anak TPA dan TKA. Pasalnya, ujar Ustadzah Lina, siswi kelas 5 KMI di Gontor Putri 1 akan mendapatkan tugas mengajar anak-anak TPA-TKA di sekitar pondok. Jika peserta penataran ini masih dari siswi kelas 5 KMI, maka manfaatnya tidak akan maksimal karena setelah penataran mereka tidak mengajar lagi. Sedangkan siswi kelas 3 Intensif dan 4 KMI dipastikan akan langsung menerapkan metode yang ada pada tahun selanjutnya ketika mereka menjadi siswi kelas 5 KMI.

“Bisa dikatakan, penataran kali ini dan setahun yang lalu diikuti peserta yang tepat dan dilaksanakan pada waktu yang tepat. Sebelumnya, pelaksanaan pelatihan semacam ini terkesan terlambat karena pesertanya berasal dari kelas 5 KMI. Padahal, mereka akan naik ke kelas 6 dan tidak akan mengajar anak-anak TKA-TPA lagi karena digantikan siswi kelas 3 Intensif dan 4 KMI yang baru naik ke kelas 5. Lha, lantas ilmu yang didapatkan tidak bisa langsung diterapkan karena kesempatan mengajar anak-anak TKA-TPA sudah diambil alih adik kelas mereka,” tutur ustadzah yang bertindak sebagai penanggung jawab acara ini kepada Gontor Online.

Adapun jumlah peserta penataran tahun ini, lanjutnya, sebanyak 551 siswi dari kelas 3 Intensif dan 4 KMI. Walaupun bukan sebagai peserta, sejumlah siswi kelas 5 KMI tetap dilibatkan dalam acara ini. Mereka diberi amanat sebagai panitia penyelenggara yang mempersiapkan acara dengan sebaik mungkin di bawah bimbingan tiga orang staf Pengasuhan Santriwati. Sebagai pembimbing dan penanggung jawab acara, Ustadzah Lina bekerjasama dengan Ustadzah Aditya dan Ustadzah Fauziah Bachtiar dalam mengarahkan panitia.

Ustadzah Aditya Eka mengungkapkan, acara ini diadakan secara rutin sekali dalam setahun dengan mendatangkan dua orang pelatih dari AMM Yogyakarta untuk mengisi materi penataran. Kedua pelatih yang hampir tiap tahun selalu diundang untuk mengisi penataran ini adalah Ustadz M. Humam Masyhudi dan Ustadz Evan Rianto. Mereka memberikan langkah-langkah jitu dalam mengajarkan Alquran kepada anak-anak TKA dan TPA yang biasa dikenal dengan Metodologi Iqro’. Materi ini disampaikan pada hari pertama setelah pembukaan tepat. Sedangkan sesi selanjutnya yang bertemakan BCM dibawakan Pak Wuntat sehari kemudian, dengan gaya khasnya yang begitu menarik perhatian. Pak Wuntat menunjukkan kepada setiap peserta bahwa cara mengajar anak-anak sangatlah berbeda dengan mengajar orang-orang dewasa. Seorang guru haruslah mampu menyatu ke dalam dunia mereka yang penuh dengan permainan dan suasana ceria. Jika tidak, seorang guru tidak akan bisa berbuat banyak untuk menggali potensi mereka.

Sementara itu, demi efektivitas acara, peserta dibagi ke dalam 27 kelompok. Secara merata, setiap kelompok terdiri dari 18-20 siswi. Sejumlah kelompok di atas menempati dua aula yang telah dipersiapkan panitia untuk penataran. Sebagian kelompok ditempatkan di Aula Kairo dan sebagian lagi menempati Aula Aisyah yang telah siap dengan pelatihnya masing-masing. Untuk keperluan acara ini, panitia menghadirkan 300 anak-anak dari TKA-TPA di sekitar pondok. Mereka langsung mendapatkan pelatihan dari Pak Wuntat. Dari sinilah para peserta juga dapat mengambil pelajaran untuk kebutuhan cara mengajar mereka tahun depan. shah wa

 

 

 

La Tansa Tailor Gelar Fashion Exhibition 2010

MANTINGAN — La Tansa Tailor berinisiatif menggelar La Tansa Fashion Exhibition 2010, Jum’at (23/4) di Auditorium Gontor Putri 1. Dalam acara yang digelar dua tahun sekali ini, La Tansa Tailor menampilkan koleksi baju-baju muslimah yang sederhana namun nampak sangat indah dengan beragam warna. Sesuai tema yang diusung panitia, “The Beauty of Islamic Intuition”, diharapkan para santriwati dapat mengambil inspirasi dari baju muslimah yang sederhana dan tidak melanggar syariat. Sehingga, mereka berani tampil dengan percaya diri walaupun mengenakan busana muslimah sederhana.

 

Acara ini melibatkan 108 santriwati yang terdiri dari kelas 1 hingga kelas 4 ditambah 10 putra-putriguru Kulliyatu-l-Mu’allimat Al-Islamiyah (KMI). Layaknya seorang model, mereka berjalan di atas panggung menampilkan busana muslimah karya La Tansa Tailor. Busana muslimah pertama yang diperagakan adalah Busana Kasual sebanyak 45 buah,lalu Busana Kerja sebanyak 12 buah, Busana Pesta 35 buah, Mukena 8 buahdan Busana Pengantin Muslimah yang ditampilkan secara khusus di penghujung acara. Walaupun tidak mempunyai pengalaman sebagai model, para santriwati yang tampil nampak tidak canggung. Secara alami, mereka tampil sebagai seorang wanita muslimah yang diajarkan berjalan anggun dan sopan.

 

 

Exact Club Rakit Penerima Sinyal Radio

DARUSSALAM— Guna memperluas wawasan santri Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Exact Club sebagai satu-satunya instansi yang mengembangkan mata pelajaran di dunia eksak telah merakit sebuah penerima sinyal radio jarak pendek.“Dari praktek tersebut, kami tidak hanya merakit radio saja. Kami juga menggunakan Oskiloskop untuk mendeteksilistrik atau tegangan yang baik bagi radio juga gelombang sinyal yang tepat,” tutur Zaini, salah satu staf Laboratorium Eksak, kepada Gontor Online, Selasa (25/5) lalu.

 

Perakitan alat tersebut di atas hanyalah sebagaipraktek bagi santri agar mampu mengenal lebih lanjutisi, manfaat dan kegunaan radio sebelum mendalami perakitan hingga ke inti komponen-komponen tersebut.Ketika ditanya terkait bahan-bahan yang digunakan untuk merakit alat sederhana ini, Zaini menjawab, mereka tidak perlu membelibahan-bahan dari luar karena sudah tersedia di Laboratorium Eksak. Zaini juga menambahkan, cara merakit alat penerima sinyal ini mereka pelajari daribuku-buku elektronik yang tersedia. Ternyata, mereka mampu di bawah bimbingan ustadz pembimbing Exact Club.

“Alat penerima sinyal radio ini hanya dirancang untuk menangkap sinyal jarak pendeksaja, bukan siaran TM karena sekedar pengetahuan lebih dalam bagi para santri PMDG. Radio ini bersumber dari listrik ynag kemudian disaring oleh komponen- komponen tertentu, sehingga menerima sinyal dari antena dan memunculkan suara,” jelas santri asal Pasuruan itu.

Mengenai rencanakedepan, Exact Club akan merancang radio dengan komponen-komponen kecil dan langsung jadi radio siap pakai.Radio tersebut nantinya akan dilengkapi alat tertentu yang sedikit lebih rumit. Sehingga, dapat menangkap sinyal  radio dari luar negeri seperti Australia dan negara-negara lainnya. Selain merancang sinyal penerima radio, Exact Club juga mempunyai proyek lain berupa budi daya jamur tiram yang ditanam di sekitar laboratorium.Dengan adanya kegiatan ini, Exact Club berupaya menerapkan ilmu eksak yang mereka pelajari untuk kehidupan sehari-hari.

 

 

 

Fathul Kutub Perluas Wawasan Keislaman Santri

DARUSSALAM— Untuk memperluas wawasan keislaman santri Gontor, Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) menggelar acara Usbuu’u-l-Dirasah fi Kutubi-l-Turaats Al-Islamiy atau Fathul Kutub untuk seluruh siswa kelas kelas 5 yang dibuka Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag, Jum’at (30/4) malam, di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Adapun jumlah siswa kelas 5 yang mengikuti acara tersebut mencapai 762 orang. Jumlah ini tidaklah termasuk siswa kelas 5 yang berada di Pondok-pondok Cabang. Untuk mendidik kemandirian, setiap Pondok Cabang mengadakan Fathul Kutub di tempat masing-masing.

 

“Seluruh siswa kelas 5 diharuskan mengikuti Fathul Kutub ini dengan sungguh-sungguh. Tidak seorang pun diperkenankan untuk meninggalkan acara sepenting ini kecuali untuk keperluan pondok yang mendesak,” ungkap Ustadz Heru Prasetyo selaku Panitia Pelaksana Fathul Kutub kelas 5 tahun ini kepada Gontor Online, Senin (3/5) lalu.

Acara yang berlangsung selama enam hari berturut-turut diawali dengan pembekalan materi pokok terlebih dahulu. Menurut Ustadz Heru, ketiga materi pokok tersebut adalah Fiqih, Tauhid dan Hadits. Semuanya disampaikan pada hari kedua setelah pembukaan, Sabtu (1/5) pagi. Materi Fiqih disampaikan oleh Ustadz H. Syarif Abadi, materi Tauhid disampaikan oleh Ustadz H. Ahmad Suharto, S.Ag. dan materi Hadits disampaikan Ustadz Imam Awaluddin, M.A. Pembekalan ini bertujuan agar para santri mengetahui berbagai permasalahan yang menyangkut ketiga bidang ilmu pengetahuan tersebut sebelum mereka membuka kitab-kitab yang ada di hadapan mereka. Sehingga, pada saat Fathul Kutub berlangsung, mereka dapat membahasnya dan menemukan jawaban dari kitab-kitab klasik tersebut.

Fathul Kutub sendiri merupakan sistem belajar kelompok dengan cara menelaah kitab-kitab Fiqih, Tauhid dan Hadits yang dikarang para ulama terdahulu. Hasil telaah ini kemudian didiskusikan bersama-sama di dalam kelompok masing-masing dengan diarahkan seorang ustadz pembimbing dari para wali kelas 5. Adapun jumlah kelompok Fathul Kutub tahun ini mencapai 48 firqoh. Setiap kelompok, Ustadz Heru menerangkan, mendiskusikan permasalahan yang ada di tempat-tempat yang telah ditentukan panitia. Diskusi atau pembahasan ini tidak hanya berlangsung pada pagi hari, akan tetapi dilanjutkan pada malam hari yang seyogyanya digunakan untuk muwajjah (belajar terbimbing bersama wali kelas pada malam hari-red). Bagi siswa kelas 5, waktu muwajjah ini digunakan untuk meneruskan diskusi Fathul Kutub bersama pembimbing masing-masing.

Acara yang menggunakan kurang lebih sekitar 4 ribu kitab ini bertujuan memberikan pengenalan kepada siswa kelas 5 KMI berbagai macam kitab klasik yang dikenal lebih akrab di kalangan pondok salaf dengan sebutan kitab kuning di samping menambah wawasan ilmu keislaman dari kitab-kitab tersebut. Sehingga, para santri dapat mengetahui bagaimana tingkat keilmuan para ulama terdahulu. Selain itu, ada tujuan yang tidak kalah pentingnya dari pelaksanaan Fathul Kutub ini, yaitu mengasah kemampuan bahasa Arab siswa kelas 5 KMI.

Untuk itulah, pada hari terakhir menjelang penutupan acara, Rabu (5/5) pagi, diadakan acara debat terbuka yang membahas masalah kepemimpinan wanita. Beberapa siswa kelas 5 yang ditentukan sebagai peserta debat terbagi ke dalam dua kubu; pro dan kontra. Melalui acara debat ini, kemampuan berbahasa mereka pada waktu berdebat mewakili seluruh siswa kelas 5. Setelah selesai, acara dilanjutkan dengan evaluasi umum dari Direktur KMI, KH. Masyhudi Subari, MA. Selanjutnya, acara ditutup dengan taushiyah dan pesan-pesan dari Pimpinan Pondok, KH. Hasan Abdullah Sahal.

 

 

 

 

Simulasi Pemadaman Kebakaran, Bekali Santri Tanggulangi Kebakaran

RABITHOH — Pengasuhan Santri Pondok Modern Darussalam Gontor kembali mengadakan acara Simulasi Pemadaman Kebakaran, Jum’at (14/5). Simulasi yang digelar di depan Gedung Rabithoh tersebut bertujuan untuk membekali santri menghadapi kebakaran di manapun mereka berada. Sehingga, dapat menghindari bahaya besar yang ditimbulkannya. “Para santri juga akan terbiasa sigap dalam segala keadaan untuk memberikan pertolongan pertama di masyarakat kelak, terutama pada saat terjadi kebakaran di sekitar mereka,” ujar Ustadz Hadi Amroni, staf Pengasuhan Santri selaku penanggung jawab acara, kepada Gontor Online, Jum’at (14/5), setelah acara usai.

 

Ustadz Hadi mengungkapkan, acara semacam ini sudah diadakan sebanyak tiga kali pada tahun-tahun sebelumnya. Untuk acara pelatihan pemadaman kebakaran kali ini, Pengasuhan Santri mendatangkan tiga orang ahli pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran Ponorogo. Menurut Ustadz Hadi, ketiga petugas tersebut sudah sangat akrab dengan para staf Pengasuhan Santri karena mereka sering berkunjung ke pondok untuk memeriksa tabung-tabung alat pemadam kebakaran yang tersebar di asrama-asrama santri dan kamar-kamar dewan guru. Jumlahnya mencapai 70 buah.

Acara yang dibuka KH. Masyhudi Subari, MA tersebut diikuti seluruhmudabbir (pengurus asrama-red) kelas 4, ketua asrama dan seluruh ketua bagian Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM). Mudabbir kelas 4 berjumlah 40 orang, ketua rayon se-Darussalam mencapai 60 orang, ketua bagian OPPM berjumlah 63 orang dan seluruh bagian Keamanan OPPM sebanyak 16 orang. Rencananya, acara semacam ini akan dilaksanakan setiap tahun dengan memanfaatkan tabung yang ada. Dengan demikian, diharapkan setiap santri dapat menggunakan alat yang ada di sekitar mereka untuk menanggulangi kebakaran yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

 

 

http://gontor.ac.id/?tag=aktivitas

 

Published in: on March 29, 2011 at 7:22 PM  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: http://sufyfunky.wordpress.com/2011/03/29/9-cerita-gontorpenyemangat-para-santri-d/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: