Menjadi Remaja Gaul yang Saleh

Masa remaja biasanya dipahami sebagai masa pergaulan. Di masa remaja ini seorang remaja biasanya mencari teman sebanyak-banyaknya. Di luar belajar, waktu seorang remaja biasanya dihabiskan untuk bermain bersama teman-temannya. Ia bercanda dan memperbincangkan banyak hal dengan teman-temannya dari mulai masalah pribadi sampai pada hal-hal yang bersifat hiburan.
Karena itu, remaja gaul biasanya sangat disenangi oleh teman-temannya, baik teman sejenis maupun lawan jenisnya. Sedangkan remaja yang menutup diri biasanya tidak memiliki banyak teman. Ia biasanya tidak memiliki banyak teman. Ia biasanya dikatkan remaja kurang gaul atau kuper (kurang pergaulan). Dalam persepsi remaja, remaja gaul dipahami sebagai remaja yang dapat diajak gaul model apa saja dan diajak ke mana ok saja. Jika temannya merokok, ia pun harus merokok. Jika temannya mengenakan pakaian yang mempertontonkan aurat, ia pun harus mengikutinya. Jika temannya minum-minuman keras atau mengonsumsi NARKOBA, ia pun harus mengikutinya. Jika temannya bergaul bebas dengan lawan jenisnya, ia pun harus mengikutinya dan seterusnya. Gaul dipahami sebagai kebersamaan, kesetiaan, kesamaan sikap dan tingkah laku. Sehingga kalau ada yang tidak mau mengikuti apa yang menjadi tren di kalangan teman-temannya, ia dikatakan kuper, sok suci, sok ustadz, anak mamah dan lain sebagainya. Misalnya sekelompok remaja kebiasaannya setelah pulang sekolah nongkrong di mal-mal tanpa ada tujuan pasti, sementara ada temannya yang tidak mau mengikuti mereka, maka temannya yang tidak mau turut dikatakan kuper atau kurang gaul. Karena itu banyak remaja terjerumus NARKOBA dan perbuatan negatif lainnya akibat adanya rasa gengsi jika tidak mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya.
Dalam suasana seperti ini mungkinkah seorang remaja berperilaku shaleh (mengikuti norma-norma agama) tetapi tetap bisa bergaul dengan teman-temannya? Mungkinkan seorang remaja yang selalu berkata benar, berkata-kata yang baik-baik saja, membatasi banyak berkumpul dengan lawan jenis, membatasi banyak berkumpul dengan teman-teman untuk hal yang tidak perlu dan selalu mengutamakan pelajaran dari pada hiburan, dapat bergaul dengan teman-temannya? Karena selama ini remaja yang berperilaku shaleh sering dicap sebagai remaja yang kurang gaul alias ekslusif.
Tentu saja bisa, terutama jika kita mampu mengubah persepsi apa yang dinamakan remaja gaul. Pengubahan persepsi itu sendiri tidak perlu menunggu orang lain melakukannya, melainkan harus diri kita sendiri. Kita harus mendefinisikan apa yang disebut sebagai remaja gaul dengan ukuran norma agama dan kita harus mampu komitmen dengan pendefinisan itu. Kita tidak boleh terombang ambing dengan persepsi orang lain. Kalau menurut kita, kita sudah cukup gaul sesuai dengan norma agama, maka biarkan saja orang mau berkata apa.
Karena itu, yang terpenting adalah seorang remaja mengetahui norma-norma agama yang mengatur pergaulan antar manusia. Diantaranya :

 

1. Lebih baik diam dari pada berkata-kata yang tidak baik

Rasulullah SAW bersabda:
Barang siapa beriman kepada allah dan hari akhirat, maka hendaknya berkatalah yang baik-baik saja, (atau kalau tidak bisa) sebaiknya diam saja. (H.R Muslim).
Lebih baik diam, dari pada berkata-kata yang tidak perlu, apalagi perkataan yang mengandung maksiat. Seorang remaja tidak perlu khawatir dikatakan kurang pergaulan akibat sikapnya yang banyak diam. Asal jangan jadi remaja yang sok alim. Sok pendiam, tapi diam-diam kelakuannya lebih parah dari teman-temannya.
2. Lebih takut kepada Allah dari pada kepada lain-Nya
Seorang remaja harus berani berkata “tidak kepada ajakan negatif kawan-kawannya. Jangan takut dikatakan “kuper” atau sok alim untuk menolak ajakan maksiat kawan-kawannya. Karena dalam Islam tidak boleh ada ketaatan kepada orang lain, biarpun kepada pemimpin atau orang tua apalagi kawan, jika menyakut kemaksiatan kepada Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah sesungguhnya ketaatan hanya dalam hal kebaikan. (H.R Bukhari dan Muslim)
3. Mengutamakan kepentingan akhirat dari pada kepentingan dunia
Seorang remaja adalah orang yang sudah mukallaf, artinya harus menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya. Karena itu, jika seorang remaja melakukan perbuatan melanggar ketentuan Allah, ia akan mendapat dosa dan akan disiksa di akhirat nanti. Maka dari itu, seorang remaja yang shaleh akan mengutamakan kepentingan dunia yang hanya sementara. Allah SWT berfirman, artinya Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan (QS. Adh-Duha:4)
Biarlah dikatakan kurang gaul atau perkataan lainnya, tetapi yang penting masa depan kita di akhirat selamat.
4. Rela bersusah-susah terlebih dahulu untuk mendapatkan kebahagian/keberhasilan
Tidak ada keberhasilan yang dicapai tanpa perjuangan. Semua orang sukses pasti telah melakukan perjuangan terlebih dahulu. Seperti kata pepatah, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”
Seorang remaja yang menahan dirinya untuk tidak banyak bermain, memanfaatkan waktu untuk belajar dan mengikuti kursus-kursus yang lain, mungkin ia akan merasa hidupnya tertekan atau kurang hiburan. Apalagi zaman sekarang ini, dimana acara-acara televisi bagus, ada pertandingan sepak bola terkenal, sinetron percintaan anak remaja, dan lain-lain.
5. Tidak melakukan perbuatan yang sia-sia
Seorang remaja harus memiliki pertimbangan ketika akan melakukan semua perbuatan baik berkaitan dengan kegiatan dalam sekolah atau dihubungan dengan pendidikan. Lakukanlah perbuatan atau ikutilah kegiatan yang mendatangkan manfaat dan tinggalkanlah perbuatan dan kegiatan yang sia-sia. Ingatlah firman Allah SWT:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran. (QS. Al-Ashr:1-3)
Yang dilakukan remaja adalah kegiatan yang positif (amal soleh) bukan kegiatan yang sia-sia.
Seorang remaja yang mampu menjalankan prinsip-prinsip ini dalam pergaulannya, tidak bisa disebut sebagai remaja kurang pergaulan apalagi remaja yang sok alim atau sok soleh. Ia justru remaja yang soleh yang patut dijadikan teladan bagi kawan-kawannya.
Inilah seorang sufi remaja yang mampu menempatkan dirinya di tengah pergaulan modern yang hanya mengedepankan kesenangan. Ia mampu bersikap dan bertindak tanpa melukai perasaan kawannya, tetapi justru menimbulkan simpati dan pujian.

By : http://acmy.id.or.id/web/index.php?option=com_content&task=view&id=310&Itemid=77

Published in: on January 25, 2011 at 11:56 AM  Leave a Comment  
Tags: ,

The URI to TrackBack this entry is: https://sufyfunky.wordpress.com/2011/01/25/menjadi-remaja-gaul-yang-saleh/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: